PADEPOKAN MACAN REMBANG...PADEPOKAN MACAN REMBANG...
PADEPOKAN MACAN REMBANG PADEPOKAN MACAN REMBANG PADEPOKAN MACAN REMBANG

Padepokan macan rembang

Batin kita seperti cermin; ketika di hadapannya ada gunung, nampak bayangan gunung, ada air, nampaklah air. Apabila ada debu tebal di permukaannya, kita jadi tidak mengetahui apa yang ada di hadapan.

Jika kita dapat menjaga batin agar suci dan bersih, maka apapun yang ada disekitar kita akan selalu nampak indah dan baik.

Batin manusia seperti air, lemah dan lembut nampaknya, tapi mengandung kekuatan besar yang tidak terkira.

Batin juga seperti tanah lapang. Jika ditanami benih unggul, engkau akan mendapatkan hasil panen yang baik.


Jangan khawatirkan surga dan neraka, karena surga dan neraka diciptakan oleh perbuatan kita sendiri. Yang harus lebih ditakuti adalah kemerosotan batin.


Pengendalian diri akan menjaga batin agar tidak tercemar oleh pikiran yang buruk. Jika batin bersih, kejahatan tidak akan menghampiri.


Apabila pikiran baik, setiap hari dalam hidupmu akan menjadi hari baik. Jika setiap saat dijalani dengan penuh perhatian, maka setiap waktu, arah, dan tempat menjadi penuh makna.


Tekad yang sesuai dengan jalan harus dikembangkan dan diperdalam. Jika tidak, maka kajian yang mendalam atas kitab suci dan teori filsafat hanya akan menghasilkan bayangan bulan didalam air, bunga didalam cermin, bayang-bayang semu yang tidak nyata (kosong)


Latihlah batinmu hingga sebening rembulan; dimana ada air bayang-bayang bulan nampak di sana. Batin juga harus seperti langit; ketika mega-mega merebak, tampaklah langit yang bersih.


Tempalah batin dan jasmanimu, hingga ia laksana rembulan yang bercahaya lembut dan indah. Luaskan wawasan batinmu dan nyalakan cahaya kebijaksanaanmu. Terangilah keluarga, masyarakat dan setiap orang yang berhubungan dengan mu, seperti cahaya bulan yang sejuk dan menyegarkan.


Batin ini seperti cermin; meskipun bayangan yang dipantulkan selalu berubah-ubah, permukaan cermin tetap tidak berubah.

Lingkungan sekitar kita berubah, tetapi batin tak pernah berubah.
Apabila batin terus menerus berpaling pada dan mengikuti kondisi-kondisi di luar, seseorang dapat tergoyahkan hanya karena gosip, dan kehilangan kendali dirinya.

Ketika cermin digunakan untuk melihat bayangan suatu benda, cermin dan benda itu harus ditaruh dalam suatu jarak tertentu agar bayangan yang dihasilkannya nampak dengan jelas. Jika jaraknya terlalu dekat atau terlalu jauh, atau cermin itu tertutup debu tebal, maka cermin yang paling bagus pun tidak dapat memantulkan bayangan benda itu dengan jelas.


Hubungan antara manusia dan pikirannya seperti benda dan sebuah cermin. Di satu pihak kita membutuhkan kearifan dan kemampuannya untuk mengenali fakta dan hukum-hukum alam; tapi di lain pihak kita juga perlu mengambil jarak dari pikiran kita sendiri, jika tidak ingin dikuasai olehnya.


Mereka yang lengah akan tercemar oleh pikirannya sendiri, sedangkan yang mengambil jarak akan memperoleh pandangan terang.


Andaikan setiap jalan menghantar ke kedamaian abadi, orang yang kurang bersemangat, labil, hanya mencari kesenangan, dan pikirannya tidak terpusat, tetap saja tidak akan mencapainya.


Batin ini terombang-ambing ke atas dan kebawah, tenggelam dan terapung tiada henti. Ia “tenggelam” saat kita membuang-buang waktu dengan percuma, dipenuhi energi-energi negatif seperti kemarahan, kemalasan, gemar tidur, dan enggan melatih kesucian.

Ia “terapung” dalam gelombang pikiran-pikiran buruk yang tiada henti. Tanpa melepaskan dua keadaan batin ini, tertutup jalan menuju batin yang hening.

Ketimbang gelisah dan bersedih, gunakanlah potensi batinmu secara positif.


Penyakit jasmani mudah diobati; tapi penyakit batin sungguh menakutkan. Si sakit tidak dapat merasa tenang ketika berjalan, berdiri, duduk ataupun berbaring. Sekujur tubuhnya terasa tidak nyaman, sukar baginya untuk memejamkan mata dan tertidur.


Penyakit jasmani bagi orang kaya dan berkuasa, adalha rasa takut “kehilangan” apa yang mereka miliki; sedangkan bagi orang miskin dan lemah, adalah rasa haus untuk memperoleh “apa yang tidak mereka miliki”. Baik takut kehilangan maupun kehausan untuk memperoleh, keduanya sama membuat kita menderita.


Jika engkau tidak terikat pada suatu apapun, maka batinmu tidak akan terbelenggu oleh konsep untung rugi yang menyertainya – dan dengan sendirinya terbebas dari belenggu dan noda. Demikianlah batin orang bijaksana, tujuan dari mereka yang menempuh Jalan.


Bila engkau melihat sesamamu dengan batin Jernih, setiap orang adalah Jernih. Bila kau melihatnya denngan batin Keruh, setiap orang adalah Keruh.


Batin orang awam membeda-bedakan masa lalu, kini dan yang akan datang.


Dalam berlatih, orang awam menginginkan hal-hal gaib dan besar, karena itulah batin mereka semakin kacau; mereka hanya mondar-mandir didepan pintu gerbang Kebenaran.


Sesungguhnya mudah saja memperoleh batin yang hening; cukup dengan melenyapkan noda keserakan.


Batin yang awam terbelenggu, ternoda, dan terikat pada banyak hal. Batin yang bersih tanpa noda memungkinkan tumbuhnya benih KeJernihan. Benih KeJernihan = Hakikat batin semua makhluk.


Tidak ada perbedaan antara batin orang awam dan batin orang yang Jernih. Jernih tidak memiliki lebih dari sepasang tangan dan sepasang kaki. Perbedaannya adalah bahwa batin orang yang Jernih itu bersih tanpa noda, hening dan alami. Batin orang awam dipenuhi debu keinginannya yang sedikit demi sedikit menutupi hakikatnya yang asli.


Dalam gelap orang menyalakan lampu, tapi terang yang sejati ada didalam batin. Untuk itu engkau tidak perlu menyalakan lampu didepan NYA; terangilah batinmu sendiri.


Kamis, 20 Desember 2012

pengenalan AZIMAT

Memahami Azimat

Azimat merupakan solusi spiritual yang praktis untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan dan juga untuk membantu tercapainya tujuan Anda. Untuk itu, di situs ini kami memperkenalkan Anda hakekat azimat dan rajah yang dibuat bedasarkan kajian ilmu hikmah.

Sebelum Anda menghubungi kami untuk bertanya mengenai azimat, silakan Anda baca artike-artikel di bawah ini. Kemungkinan besar, pertanyaan yang ingin Anda tanyakan sudah ada jawabannya di artikel yang kami sediakan. Salam persahabatan dari Kang Masrukhan dan keluarga Asosiasi Parapsikologi Nusantara.

Apa itu Azimat, Rajah dan Wifiq?




Azimat atau jimat adalah suatu benda yang disakralkan karena memiliki manfaat supranatural untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan dan untuk membantu tercapainya suatu tujuan. Meskipun azimat umumnya disakralkan oleh pemiliknya, namun bukan berarti disembah. Seorang pemilik/pengguna azimat meyakini bahwa azimat hanyalah sarana untuk memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Azimat bisa berasal dari alam ghaib (pemberian makhluk ghaib) atau dari benda alam (suatu benda alamiah yang mengandung energi tak terlihat, misalnya kristal). Azimat juga bisa berupa benda apa saja (batu, baju, kayu, dsb) yang di-isi energi metafisika oleh seorang spiritualis, atau bisa juga berupa kertas yang ditulisi huruf, angka, simbol atau kode-kode tertentu yang bisa mengakses energi kosmos.

Di PADEPOKAN MACAN REMBANG ini, tersedia azimat dan rajah berupa kertas yang ditulisi huruf, angka dan simbol khusus sesuai ajaran ilmu hikmah. Selain itu, tentu saja setiap azimat / rajah insya Allah mengandung pancaran energi batin dari pembuatnya (yaitu Ustadz Masrukhan) yang ikut terukir pada kertas azimat ketika beliau menulis azimat untuk Anda.

Ilmu Hikmah adalah ilmu spiritual yang berkembang di kalangan orang Arab Islam. Kemudian sampai ke Indonesia seiring penyebaran agama islam di nusantara oleh para Wali. Dalam ilmu hikmah, ada dua metode untuk mendapatkan berkah/pertolongan dari Allah, yaitu melalui amalan doa/wirid dan kedua melalui sarana azimat yang disebut juga dengan wifiq, wafaq atau rajah. Setiap orang bisa melakukan amalan wirid ilmu hikmah, namun untuk membuat azimat/rajah dibutuhkan pengetahuan yang mendalam dan keahlian khusus.

Dalam bahasa Arab, Azimat/Rajah biasa disebut sebagai Wifiq atau Wafaq. Azimat/Rajah adalah tulisan-tulisan yang mengandung energi gaib, yang mana dengan kekuatan gaib tersebut suatu Azimat/Rajah dapat mempengaruhi keadaan lingkungan sekitarnya (manusia, binatang dan bahkan makhluk halus).

Tulisan Rajah dapat berbentuk huruf, angka, sandi, simbol dan gambar. Tulisan Rajah memang tidak seperti tulisan pada umumnya. Sebagian besar suatu Rajah hanya terdiri dari huruf-huruf dan angka-angka yang berdiri sendiri-sendiri, tidak menyusun suatu kata. Sehingga bisa dikatakan tulisan rajah tersebut tidak bisa diartikan dalam bahasa. Namun diyakini bahwa susunan huruf dan angka (rajah) tersebut kekuatan gaib.

Tulisan Azimat/Rajah bermacam-macam jenisnya, sesuai dengan fungsi atau kegunaannya. Azimat/Rajah bukanlah sembarang tulisan yang ditulis diatas selembar kertas atau kain atau media lainnya. Melainkan tulisan Rajah merupakan tulisan yang mengandung arti metafisik yang sangat dalam. Setiap coretan garis, simbol, sandi, gambar, huruf dan angka memiliki makna tertentu yang umumnya hanya dipahami oleh orang-orang yang mendalami ilmu batin.

Meski terkadang, tulisan Azimat/Rajah yang tidak dapat dimengerti artinya namun tulisan tersebut mempunyai makna. Azimat/Rajah lebih menekankan pada makna daripada arti. Suatu makna yang dikandungnya merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh pembuatnya. Karena azimat/rajah memang dibuat untuk membantu memenuhi hajat keinginan seseorang.

Ilmu membuat azimat/rajah sendiri adalah ilmu spiritual yang rumit. Intinya adalah bagaimana caranya mengakses energi tertentu melalui tulisan-tulisan atau kode-kode tertentu yang dituliskan pada media kertas, kain, daun, lempengan logam dan sebagainya. Sehingga setiap orang yang menggunakan azimat tersebut, akan mendapatkan manfaat sebagaimana yang diniatkan oleh pembuat azimat.

Menurut keterangan dari para Ulama yang masyhur, wifiq adalah rahasia rajah atau lambang huruf dan angka Arab maupun lambang yang masih terputus-putus sebelum terjadinya kitab-kitab, mulai dari Nabi Adam Alaihissalam hingga Nabi Muhammad SAW, yang terdiri dari empat kitab: 1. Taurat, 2. Zabur, 3. Injil, 4. Al Qur’an. Wifik adalah ilmu tentang huruf-huruf Al Qur’an yang setiap huruf mempunyai arti dan jumlah tertentu. Ilmu ini terdapat dalam kitab-kitab tarekatdan tasawuf. Kertas yang ditulisi rajah berupa huruf-huruf tertentu mempunyai makna atau perlambang ayat tertentu dari Al Qur’an, guna mendapatkan faedah dari ayat tersebut dengan berkat izin Allah.

Di situs PusatAzimat.Com, kami membedakan azimat dan rajah dengan jelas. Yang kami sebut AZIMAT adalah benda bertuah terbuat dari kain/kertas yang telah ditulisi dengan rangkaian huruf, angka, simbol dan asmak tertentu dengan tujuan sebagai tabarruk (mengharap berkah) dari Allah SWT agar permohonan khusus kita bisa dikabulkan. Cara penggunaan azimat adalah dibawa dengan cara dikalungkan atau di kantongi.

Sedangkan yang kami maksud RAJAH adalah kertas yang kami tulisi asmak, huruf, angka atau simbol khusus dengan tujuan mendapatkan keberkahan dari Allah untuk urusan tertentu. Secara prinsip AZIMAT dan RAJAH adalah sama, yang membedakan adalah cara pakainya. Cara penggunaan Rajah adalah direndam di air, kemudian air berkah tersebut dimanfaatkan untuk minum (misalnya untuk penyembuhan) atau untuk disiram di suatu tempat (misalnya untuk pemagaran gaib).


Apakah Islam Memperbolehkan Azimat?

Ilmu agama islam sangat luas dan terdiri tingkatan syariat, hakekat sampai makrifat. Wajar saja, apabila ada perbedaan pendapat mengenai berbagai hukum dalam agama islam. Termasuk perbedaan pendapat mengenai hukum memakai azimat.

Sebagian kelompok islam melarang penggunaan azimat dengan alasannya tersendiri. Di sisi lain, banyak ulama besar memperbolehkan penggunaan azimat dengan catatan jimat hanya dianggap sebagai sarana dalam berusaha, bukan penentu segalanya.

Jadi ada dua pendapat di sini, ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak. Kedua pendapat tersebut sama-sama didukung oleh ulama yang dihormati. Setiap pendapat punya dalil masing-masing. Selanjutnya, terserah Anda mau meyakini yang mana. Karena keyakinan Anda adalah hak asasi Anda. Yang penting, kita bisa saling menghormati keyakinan orang lain.

Kami sebagai pengelola PADEPOKAN MACAN REMBANG tentu saja menyediakan azimat untuk Anda yang meyakini bahwa menggunakan azimat itu boleh. Dan pendapat ini didukung oleh sebagian besar ulama yang tergabung dalam Nahdlotul Ulama (NU). Jika Anda punya keyakinan lain pun tidak masalah. Jangan memaksakan diri untuk menggunakan azimat apabila Anda merasa tidak sesuai dengan keyakinan Anda. Dan sebagai manusia yang baik, diharapkan kita bisa menghormati keyakinan orang lain yang berbeda tanpa perlu mencela.

Azimat hanyalah salah satu cara diantara sekian banyak cara untuk mendapatkan berkah. Jika Anda tidak ingin menggunakan azimat, mungkin Amalan Ilmu Hikmah lebih cocok untuk Anda. Orang bilang "Banyak jalan menuju roma", banyak cara untuk mencapai tujuan yang sama. Jangan menganggap azimat secara berlebihan seolah-olah ini satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan Anda. Banyak orang memilih menggunakan azimat karena cara ini dinilai lebih praktis dibanding cara-cara lainnya.

Berikut ini, kami sertakan pembahasan mengenai azimat dari KH Muhyiddin Abdusshomad. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember.

Jimat atau azimat dalam bahasa Arab disebut dengan tamimah (penyempurna). Makna tamimah adalah setiap benda yang digantungkan di leher atau selainnya untuk melindungi diri, menolak bala, menangkal penyakit ‘ain[1] dan dari bahan apa pun. (Lisanul Arab 12/69). Dalam perkembangannya, yang dimaksud azimat adalah segala benda yang diyakini memiliki berkah untuk tujuan-tujuan tertentu.

Sebagian orang berpendapat bahwa azimat adalah syirik dengan mengambil dasar hadits shahih riwayat Ahmad berikut:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya suwuk (rukyah), jimat dan pengasihan adalah syirik.”

Banyak orang yang tidak paham hadis, menelan mentah-mentah hadis tersebut dan mengatakan (dengan ketidaktahuannya) bahwa semua rukyah dan jimat adalah syirik. Padahal yang dimaksud hadis tersebut tidak demikian.

Dalam ilmu hadis, untuk bisa memahami hadis, kita harus memahami sejarah munculnya hadis tersebut. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan yang tepat. Sayangnya, banyak orang yang merasa pintar berdalil padahal dia hanya membaca hadis terjemahan dan kemudian mengambil kesimpulan sendiri.


Imam al-Munawi menjelaskan, menggunakan rukyah (kecuali yang syar’iyyah), jimat dan pelet (pengasihan) dianggap syirik sebagaimana dalam redaksi hadits, karena hal-hal di atas yang dikenal di zaman Rasulallah sama dengan yang dikenal pada zaman jahiliyah yaitu ruqyah (yang tidak syar’iyyah), jimat dan pengasihan yang mengandung syirik. Atau dalam hadits, Rasulallah menganggap rukqah adalah syirik karena menggunakan barang-barang tersebut berarti pemakainya meyakini bahwa benda-benda itu mempunyai pengaruh (ta’tsir) yang bisa menjadikan syirik kepada Allah.

Imam Ath-Thayyibi menanggapi hadits tersebut bahwa yang dimaksudkan dengan syirik pada hadits di atas adalah apabila seseorang meyakini bahwa jimat tersebut mempunyai kekuatan dan bisa mempengaruhi (merubah sesuatu) dan itu jelas-jelas bertentangan dengan ke-tawakkal-an kepada Allah.[2]

Di bagian lain al-Munawi menjelaskan bahwa pengguna jimat sama dengan melakukan pekerjaan ahli syirik apabila pengguna meyakini bahwa jimat tersebut dapat menolak takdirnya yang sudah tercatat.

Namun, jika jimat tersebut berupa asma atau kalam Allah atau dengan (tulisan berbentuk) dzikir Allah yang tujuannya untuk ber-tabarruk kepada Allah atau penjagaan diri serta tahu bahwa yang dapat memudahkan segala sesuatu adalah Allah maka hal itu tidak diharamkan. Pendapat ini disampaikan Ibnu Hajar yang dikutip oleh al-Munawi dalam Faidh al-Qadir.[3]

Sedangkan wifiq adalah semacam jimat yang cara penulisannya dikembalikan pada kesesuaian hitungan dan dalam bentuk tertentu. Wifiq ini dapat bermanfaat untuk segala hajat, termasuk keselamatan, keberhakan dalam usaha, penyembuhan penyakit, memudahkan orang yang melahirkan dan lain-lain.

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawi Haditsiyyah-nya menjawab: hukum menggunakan wifiq tersebut adalah boleh jika digunakan untuk hal-hal yang diperbolehkan syari’at dan jika digunakan untuk melakukan hal haram maka hukumnya haram. Dan dengan ini, kita dapat menjawab pendapat al-Qarafi (ulama Malikiyyah murid ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam) yang menegaskan bahwa wifiq adalah termasuk bagian dari sihir.[4]

Di antara ulama Islam yang ahli dan berkecimpung secara langsung dengan pembuatan wifiq adalah Al-Ghazali. Bahkan Shohabat Abdurrohman bin auf RA. menulis huruf-huruf permulaan AlQur`an dengan tujuan mnjaga harta benda agar aman, Imam sufyan al tsauri menuliskan untuk wanita yang akan melahirkn dan digantung didada , ibnu taimiyah al harrani menulis QS Hud. 44 didahi orang yang mimisan.

Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kamu, niscaya Aku akan mengabulkannya untukmu”. (QS al-Mu’min: 60)
Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Diantaranya adalah:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:” كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ
الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟
فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ
يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di  dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR Muslim [4079]).

Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:
Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,
”Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya): Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut.”

Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. (At-Thibb an-Nabawi, hal 167).

Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman menggunakan azimat, misalnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ

Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “‘Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan: “Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181).

lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310).

Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.
  1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW.
  2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.
  3. Tertanam keyakinan bahwa azimat itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.” (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).
Jadi apakah islam memperbolehkan azimat? Menurut pendapat dari ulama besar yang kami ikuti perkataannya, bahwa islam memperbolehkan penggunaan azimat selama azimat tersebut sesuai dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas. Meskipun demikian, keyakinan Anda adalah hak asasi Anda. Apabila Anda punya keyakinan lain, jangan paksakan diri untuk mengikuti keyakinan kami.

***

Pimpinan Majelis Rasulullah Bicara Soal Mengambil Berkah


Seseorang bertanya kepada Habib Munzir Almusawa tentang mengambil berkah dari benda-benda yang telah didoakan atau mengambil berkah dari orang salih. Habib menjawab dengan hadis-hadis sahih yang patut Anda baca.

Habib Munzir Almusawa adalah pimpinan Majelis Rasulullah. Tulisan asli dari artikel ini bisa Anda baca di situs http://www.majelisrasulullah.org/. Di sini, kami hanya menampilkan kembali untuk memudahkan Anda dalam membaca. Semoga artikel ini bermanfaat.

-----------------------------------------------------------------------------------------

PERTANYAAN

Assalamualaikum

Ya habib yang saya hormati...mohon perkenan jawaban nya
  1. Dalam usaha perdagangan, biasanya ada yang mencari pelarisan (misal dari seorang kyai), ada yang berbentuk doa, berbentuk minyak, garam,, air, dll...bagaimana ya bib hukum nya...
  2. Jika kita sowan kyai, minta doa dan keberkahan dari beliau, bagaimana hukumnya?
  3. Bib, seseorang dikatakan dukun, sehingga kita dilarang bertanya kepadanya...itu ciri-cirinya bagaimana? Karena ada juga orang islam yang mengamalkan syariat, bisa menjelaskan hal-hal yang gaib...
  4. Gimana ya bib, membedakan hal syirik dengan enggak,?

Terimakasih
Wassalaamu’alaikum

-----------------------------------------------------------------------------------------

JAWABAN HABIB MUNZIR

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Kebahagiaan dan kesejukan rahmat nya semoga selalu menaungi hari-hari anda,

Saudaraku yang kumuliakan,
  1. Jika benda / air yang didoakan, maka boleh, rasul saw melakukannya, dan seluruh madzhab membolehkannya, yang dilarang adalah memperbudak jin atau mempertuannya, jika dibantu oleh jin maka boleh selama tak memperbudak dan mempertuannya.
  1. Minta doa pada orang shalih diperbolehkan dan sunnah, demikian teriwayatkan pada riwayat sahih
  1. Beda antara dukun dan shalihin, dukun adalah yang memperbudak jin atau mempertuan jin, ia mestilah dirumahnya dan wajahnya kelam menakutkan, tidak sejuk dan dama sebagaimana orang yang shalih dan banyak bersujud. Bertanya pada orang shalih boleh, karena rasul saw bersabda : hati hatilah pada firasat orang beriman, sungguh mereka melihat dengan cahaya Allah.
  1. Menyembah selain Allah hukumnya syirik, namun memperbudak jin adalah dosa besar dan bukan syirik, mempertuannya pun bisa terjeblos dalam kemusyrikan jika memuliakannya lebih dari Allah swt.

Berikut saya tampilkan dalil-dalil tabarruk (mengambil berkah)

Tabarruk

Banyak orang yang keliru memahami makna hakikat tabarruk dengan nabi muhammad saw, peninggalan-peninggalannya saw, ahlulbaitnya saw dan para pewarisnya yakni para ulama, para kyai dan para wali. Karena hakekat yang belum mereka pahami, mereka berani menilai kafir (sesat) atau musyrik terhadap mereka yang bertabarruk pada nabi saw atau ulama.

Sebagaimana firman Allah swt : “berkatalah nabi mereka pada mereka, bahwa bukti bahwa ia diberi kekuasaan adalah peti yang didalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan kalian, dan bekas bekas peninggalan keluarga musa (as) dan keluarga harun (as) yang dibawakan oleh malaikat, sungguh pada hal itu terdapat tanda tanda jika kalian benar benar beriman” (qs al baqarah 248).

Maka azimat (ruqyyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada kitab faidhulqadir juz 3 hal 192, dan tafsir imam qurtubi juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat ayat alqur’an.

Mengenai azimat (ruqyyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pd kitab faidhulqadir juz 3 hal 192, dan tafsir imam qurtubi juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat ayat alqur’an.

Mengenai benda-benda keramat, maka ini perlu penjelasan yang sejelas jelasnya, bahwa benda benda keramat itu tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia seorang yang shalih, maka sebagaimana diriwayatkan :

  1. Para sahabat seakan akan hampir saling bunuh saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya rasulullah saw (sahih Bukhari hadits no. 186),
  1. Allah swt menjelaskan bahwa ketika ya’qub as dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian yusuf as, maka iapun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya dalam firman nya swt : “(berkata yusuf as pada kakak kakaknya) pergilah kalian dengan bajuku ini, lalu lemparkan kewajah ayahku, maka ia akan sembuh dari butanya” (qs yusuf 93), dan pula ayat : “maka ketika datang padanya kabar gembira itu, dan dilemparkan pada wajahnya (pakaian yusuf as) maka ia (ya’qub as) sembuh dari kebutaannya” (qs yusuf 96). Ini merupakan dalil alqur’an, bahwa benda/pakaian orang orang shalih dapat menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya, kita bertanya mengapa Allah sebutkan ayat sedemikian jelasnya?, apa perlunya menyebutkan sorban yusuf dengan ucapannya : pergilah kalian dengan bajuku ini, lalu lemparkan kewajah ayahku, maka ia akan sembuh dari butanya” . Untuk apa disebutkan masalah baju yang dilemparkan kewajah ayahnya?, agar kita memahami bahwa Allah swt memuliakan benda benda yang pernah bersenTuhan dengan tubuh hamba hamba nya yang shalih. Kita akan lihat dalil dalil lainnya.
  1. Setelah rasul saw wafat maka asma binti abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yang sakit maka ia mencelupkan baju rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yang sakit (sahih muslim hadits no.2069).
  1. Rasul saw sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau : “dengan nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin Tuhan kami” (sahih Bukhari hadits no.5413), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini menjelaskan bahwa rasul saw bertabarruk dengan air liur mukminin bahkan tanah bumi, menunjukkan bahwa pd hakikatnya seluruh ala mini membawa keberkahan dari Allah swt.
  1. Seorang sahabat meminta rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yang kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya rasul saw hingga dijadikan musholla (sahih Bukhari hadits no.1130)
  1. Nabi musa as ketika akan wafat ia meminta didekatkan ke wilayah suci di palestina, menunjukkan bahwa musa as ingin dimakamkan dengan mengambil berkah pada tempat suci (sahih Bukhari hadits no.1274).
  1. Allah memuji nabi saw dan umar bin khattab ra yang menjadikan maqam ibrahim as (bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yang dinamakan maqam ibrahim as) sebagai tempat shalat (musholla), sebagaimana firman nya : “dan mereka menjadikan tempat berdoanya ibrahim sebagai tempat shalat” (qs al imran 97), maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan tempat hamba hamba nya berdoa, bahkan rasul saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
  1. Diriwayatkan ketika rasul saw baru saja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (sahih Bukhari hadits no.5689), demikian cintanya para sahabat pada nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas senTuhan tubuh nabi muhammad saw.
  1. Sayyidina umar bin khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, yaitu sebuah serangan pedang yang merobek perutnya dengan luka yang sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (abdullah bin umar ra), "pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah makam rasul saw dan abubakar ra", maka ketika ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah umar ra : "tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam rasul saw” (sahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan umar bin khattab ra kuburan nabi saw mempunyai arti yang sangat agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan nabi saw, bahkan ia berkata : "tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”
  1. Demikian pula abubakar shiddiq ra, yang saat rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah nabi saw lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan berkata : “demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai rasulullah.., tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (sahih Bukhari hadits no.1184, 4187).
  1. Salim bin abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa ibn umar ra pun melakukannya. (sahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang nabi saw.
  1. Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada abu muslim, wahai abu muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka abu muslim ra berkata : kulihat rasul saw shalat ditempat ini” (sahih Bukhari hadits no.480).
  1. Sebagaimana riwayat sa’ib ra, : "aku diajak oleh bibiku kepada rasul saw, seraya berkata : wahai rasulullah.., keponakanku sakit.., maka rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat tanda kenabian beliau saw" (sahih muslim hadits no.2345).
  1. Riwayat lain ketika dikatakan pada ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut rasul saw, maka ia berkata: “kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (sahih Bukhari hadits no.168). Demikianlah mulianya sehelai rambut nabi saw di mata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.
  1. Diriwayatkan oleh abi jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu rasul saw dan mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (sahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada sahih Bukhari hadits no.5521, dan pada sahih muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).
  1. Diriwayatkan ketika Anas bin Malik ra dalam detik-detik sakratulmaut ia yang memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat rasul saw dan beberapa helai rambut rasul saw, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (sahih Bukhari hadits no.5925)

Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw

Tentunya umar bin khattab sudah dikatakan musyrik karena di sakaratul maut bukan ingat Allah malah ingat kuburan nabi saw

Tentunya para sahabat sudah dikatakan musyrik dan halal darahnya, karena mengkultuskan nabi Muhammad saw dan menganggapnya Tuhan sembahan hingga berebutan air bekas wudhunya, mirip dengan kaum nasrani yang berebutan air pastor!
Nah.. Kita boleh menimbang diri kita, apakah kita sejalan dengan sahabat atau kita sejalan dengan generasi sempalan.

Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada Tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik.

Sebagaimana sabda nabi saw : “keberkahan adalah pada urang orang tua dan ulama kalian” (sahih ibn hibban hadits no.559)

Dikatakan oleh al hafidh al imam jalaluddin abdurrahman assuyuthiy menanggapi hadits yang diriwayatkan dalam sahih muslim bahwa rasul saw membaca mu’awwidzatain lalu meniupkannya ke kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke sekujur tubuh yang dapat disentuhnya, hal itu adalah tabarruk dengan nafas dan air liur yang telah dilewati bacaan Alqur’an, sebagaimana tulisan dzikir yang ditulis di bejana (untuk obat). (al jami’usshaghiir imam assuyuthiy juz 1 hal 84 hadits no.104)

Telah dibuktikan pula secara ilmiah oleh salah seorang profesor jepang, bahwa air itu berubah wujud bentuknya dengan hanya diucapkan padanya kalimat-kalimat tertentu, bila ucapan itu berupa cinta, terimakasih dan ucapan-ucapan indah lainnya maka air itu berubah wujudnya menjadi semakin indah, bila diperdengarkan ucapan cacian dan buruk maka air itu berubah menjadi buruk wujud bentuknya, dan bila dituliskan padanya tulisan mulia dan indah seperti terimakasih, syair cinta dan tulisan indah lainnya maka ia menjadi semakin indah wujudnya, bila dituliskan padanya ucapan caci maki dan ucapan buruk lainnya maka ia berubah buruk wujudnya, kesimpulannya bahwa air itu berubah dengan perubahan emosi orang yang di dekatnya, apakah berupa tulisan dan perkataan.

Keajaiban alamiah yang baru diketahui masa kini, sedangkan rasul saw dan para sahabat telah memahaminya, mereka bertabarruk dengan air yang menyentuh tubuh rasul saw, mereka bertabarruk dengan air doa yang didoakan oleh rasul saw, maka hanya mereka kaum Muslimin yang rendah pemahamannya dalam syariah inilah yang masih terus menentangnya padahal telah dibuktikan secara ilmiah, menunjukkan pemahaman mereka itulah yang jumud dan terbelakang.

Walillahittaufiq
Demikian saudaraku yang kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dengan segala cita-cita.

Habib Munzir Almusawa
Majelis Rasulullah

WAllahu a'lam


Keistimewaan Azimat


Sekarang ini banyak beredar "azimat, wifiq dan rajah ngawur", kami sebut demikian karena azimat yang banyak beredar di masyarakat sudah diproduksi secara masal dengan cetakan, print, fotocopy atau sablon. Tentu saja, ini menyalahi aturan pembuatan azimat sebagaimana yang diajarkan guru-guru ilmu hikmah yang masyhur kedalaman ilmunya. Azimat yang baik seharusnya dibuat satu per satu dengan tulisan tangan. Cara menulisnya pun ada waktu dan tatakramanya, sehingga tidak boleh sembarangan.

Azimat yang dibuat secara ngawur, bukan hanya menyalahi tata krama atau aturan, tapi juga dikhawatirkan berkah atau manfaatnya jadi tidak ada. Ibarat manusia, azimat yang dibuat tanpa secara sembarangan adalah manusia tanpa ruh/nyawa, alias mayat. Tidak akan banyak manfaatnya karena tidak ada isinya apa-apa.

 kami berusaha sebaik mungkin menyediakan azimat yang asli. ASLI dalam artinya proses pembuatannya sesuai dengan tata krama pembuatan azimat yang benar. Bukan hanya itu, pembuatnya adalah seorang ahli ilmu hikmah yang memahami ilmu rajah, wifi dan azimat secara mendalam.

Tingkat daya batin seorang pembuat azimat tentu juga sangat penting, karena setiap huruf yang dituliskan dalam azimat mengandung pancaran daya batin dari pembuatnya. Dalam membuat azimat, dibutuhkan ketenangan atau rasa khusyu, oleh karena itu, membuat azimat tidak boleh buru-buru.
 
Berikut ini adalah keistimewaan Azimat
  1. Dibuat oleh ahli ilmu hikmah yang memahami secara mendalam ilmu tentang azimat, rajah, wifik dan benda-benda bertuah lainnya.
  2. Dibuat dengan tulisan tangan asli (bukan print, bukan foto copy, bukan cetakan dan bukan sablon).
  3. Azimat ditulis menggunakan tinta khusus yang sudah dicampur dengan minyak wangi khusus agar lebih berkah.
  4. Azimat, rajah atau wifiq ditulis di atas kertas yang telah di-asmak (dibacakan doa-doa) sehingga berkahnya insya Allah lebih besar.
  5. Setiap azimat ditulis dengan penuh penghayatan dan pemusatan daya batin dengan harapan agar azimat bermanfaat maksimal sesuai fungsinya masing-masing.
  6. Pengguna azimat tidak perlu mengamalkan wirid, doa-doa, mantera atau amalan apapun. Karena menurut ahli hikmah, azimat adalah sarana praktis untuk mendapatkan keberkahan, mengatasi masalah, penyembuhan, penangkal serangan, sarana mencapai tujuan dan sebagainya.
  7. Azimat/Rajah dari kami bisa digunakan oleh siapa saja, pria/wanita segala usia dan untuk semua agama. Syaratnya hanya satu, digunakan untuk kebaikan. Tolok ukur kebaikan adalah tidak merugikan diri sendiri atau orang lain.
  8. Tidak ada pantangan atau aturan khusus untuk pengguna azimat/rajah. Bahkan azimat dari kami boleh dibawa masuk ke kamar mandi tanpa mengurangi berkahnya. Asalkan ketika mau buang air, azimatnya di lepas (diletakkan di tempat yang aman di dalam kamar mandi).
  9. Azimat dilipat dan dilaminating dengan rapi sehingga tidak mudah rusak dan tahan air. Bentuknya tipis dan rapi, sehingga Anda bisa menaruh azimat di dompet atau ditaruh saku baju Anda. Insya Allah berkah azimat akan selalu ada selama tulisan azimat (kertas azimat) tidak rusak.


Kami menulis azimat bedasarkan ajaran-ajaran para ulama ahli ilmu hikmah yang "karomahnya" telah diakui oleh banyak orang. Diantarnya adalah ajaran dari kitab-kitab tentang ilmu hikmah dan azimat karya para ulama terkenal, yaitu:
  • Syamsul Anwar wakunuuzul Asrar - Karangan Syeikh Ahmad Ali Bin Al-Buuni
  • Risalah Mizaanul Adli Fii Maqoosidil Ahkaamir Ruumi - Karangan Assayyid Abdul Qaadir Al-Husaini
  • Manba' Usuulil Hikmah - Karangan Syeikh Ahmad Ali Albuuni
  • Arrohmah Fittibbi Walhikmah - Karangan Imam Jalaaluddin As-Suyuuthi
  • Al-Aufaq - Karangan Al- Ghazali
  • Khaziinatul Asraar Wa Jaliilatul Azhar - Karangan Assayyid Muhammad Haqqi Nazili
  • Al-Fawaaidh Fis Silsilah Wal Awaaidh - Karangan Syeikh Siraaji Zabidi
  • Syam­sul Ma'arif dan Manba'u Ushul Al-Hikmah karya Imam Ali Al-Buni
  • Al­-Adzkar karya Imam Nawawi.

Kitab-kitab tersebut memang tidak lazim diajar­kan di kelas-kelas madrasah di pe­santren. Biasanya pengajaran kitab-kitab seperti itu disampai­kan secara pribadi dari guru kepada murid. Karena ilmu ini memang merupakan ilmu rahasia yang kurang etis apabila diajarkan secara bebas kepada umum.

CATATAN: Artikel ini ditulis oleh tim PADEPOKAN MACAN REMBANG yang tergabung dalam Asosiasi Parapsikologi Nusantara. Harap tidak copy-paste tulisan ini ke blog atau situs lain tanpa izin dari pihak PADEPOKAN MACAN REMBANG Terimakasih atas kesadaran Anda untuk menghargai karya tulis orang lain. Semoga hidup Anda lebih berkah karena telah berbuat benar.

 

Tentang Infaq Untuk Mendapatkan Azimat


Mohon pengertian Anda, bahwa infaq untuk mendapatkan azimat jangan dianggap sebagai jual beli berkah. Karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menjual berkah. Apapun manfaat yang terkandung dalam azimat, semua terjadi atas izin Allah SWT. Karena sesungguhnya, tidak ada satupun yang bisa terjadi apabila Allah tidak mengizinkan.

Azimat merupakan salah satu cara mengambil berkah (tabaruk) atas asmak, huruf atau simbol tertentu. Ini hanyalah sarana mencari berkah dan pertolongan Allah. Oleh karena itu, janganlah merasa bahwa Anda bisa membeli berkah, karena keberkahan datangnya dari Allah.

Ketika Anda memesan azimat dari kami, jangan anggap itu sebagai jual-beli. Anggaplah infaq yang Anda berikan sebagai tanda terimakasih karena Anda menghargai usaha orang lain yang mau meluangkan waktu membuat azimat untuk Anda. Imam tirmidzi juga meriwayatkan dari Abi Sa’id al Khudri bahwa Rasullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa tidak berterimakasih kepada sesama manusia berarti tidak berterima kasih kepada Allah SWT."

Perihal jumlah infaq yang kami tentukan tersebut, itu dihitung sekiranya sesuai dengan waktu yang kami luangkan untuk membuat azimat. Meskipun demikian, untuk Anda yang sangat membutuhkan, tapi tidak mampu memberikan infaq sesuai ketentuan, Anda boleh hanya mengganti biaya kirim saja. Kami berikan azimat gratis untuk Anda. Syaratnya adalah ada surat keterangan tidak mampu dari kelurahan Anda dan hanya dibatasi untuk mendapatkan 1 azimat yang paling Anda butuhkan.

Jika dibandingkan berkah yang akan Anda dapatkan, infaq yang Anda berikan tentu saja sangat kecil nilainya. Dengan kata lain, infaq ini sangat murah dibandingkan manfaatnya. Oleh karena itu, atas dasar etika spiritual, apabila Anda mampu, mohon jangan menawar jumlah infaq yang kami tentukan di website ini. Karena ketika Anda masih menawar, seolah-olah Anda menganggap ini adalah jual-beli.

Dana infaq yang Anda berikan kepada kami, kami gunakan untuk operasional pelayanan PADEPOKAN MACAN REMBANG Sebagaimana Anda tahu, suatu organisasi tidak mungkin bisa berkembang apabila tidak didukung pendanaan yang cukup. Oleh karena itu, demi kelancaran operasional kami, kami menerima infaq dari Anda yang memesan azimat. Semoga, infaq yang Anda berikan dengan ikhlas akan menambah keberkahan pada diri Anda.

Untuk lebih memahami apa yang dimaksud infaq. simaklah penjelasan berikut ini. Infaq itu berbeda dengan sedekah dan zakat. Memang ketiga istilah itu (ifaq, sedekah dan zakat) sangat akrab di telinga kita, seolah sudah menjadi satu kesatuan. Tetapi sesungguhnya masing-masing istilah itu punya hakikat dan pengertian sendiri-sendiri yang cukup spesifik, sehingga kita perlu menyebutkannya satu persatu. Karena bukan sinonim, bahkan dari segi hukum, juga amat berbeda.


INFAQ

Saya akan mulai dari istilah infaq. Karena istilah infaq ini boleh dibilang merupakan induk dari ketiga istilah tadi.

Asal kata infaq dari bahasa arab, yaitu (أنفق – ينفق - إنفاقا) yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta.

Berbeda dengan yang sering kita pahami dengan istilah infaq yang selalu dikaitkan dengan sejenis sumbangan atau donasi, istilah infaq dalam bahasa Arab sesungguhnya masih sangat umum. Intinya, hanya mengeluarkan harta atau membelanjakannya. Apakah untuk kebaikan, donasi, atau sesuatu yang bersifat untuk diri sendiri, atau bahkan keinginan dan kebutuhan yang bersifat konsumtif, semua masuk dalam istilah infaq.

Ketika Anda memberikan sejumlah uang untuk mendapatkan azimat dari kami, maka disebut infaq. Diharapkan Anda memberikan infaq dengan ikhlas dan rela (atas keinginan Anda sendiri, bukan paksaan). Dan yang lebih penting, Anda tidak menganggap ini sebagai jual-beli, melainkan hanya tanda terimakasih, hadiah atau donasi.

a. Membelanjakan Harta

Mari kita lihat istilah infaq dalam beberapa ayat quran, misalnya :

لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ

Walaupun kamu membelanjakan semua yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. (QS. Al-Anfal : 63)

Dalam terjemahan versi Departemen Agama RI tertulis kata anfaqta dengan arti : membelanjakan dan bukan menginfaqkan. Sebab memang asal kata infaq adalah mengeluarkan harta, mendanai, membelanjakan, secara umum apa saja. Tidak hanya terbatas di jalan Allah, atau sosial atau donasi.

b. Memberi Nafkah

Kata infaq ini juga berlaku ketika seorang suami membiayai belanja keluarga atau rumah tangganya. Dan istilah baku dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan nafkah. Kata nafkah tidak lain adalah bentukan dari kata infaq. Dan hal ini juga disebutkan di dalam Al-Quran :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain , dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa`: 34)

c. Mengeluarkan Zakat

Dan kata infaq di dalam Al-Quran kadang juga dipakai untuk mengeluarkan harta (zakat) atas hasil kerja dan hasil bumi (panen).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ

Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah zakat sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. Al-Baqarah : 267)

Jadi kesimpulannya, istilah infaq itu sangat luas cakupannya, bukan hanya dalam masalah zakat atau sedekah, tetapi termasuk juga membelanjakan harta, memberi nafkah bahkan juga mendanai suatu hal, baik bersifat ibadah atau pun bukan ibadah. Termasuk yang halal atau yang haram, asalkan membutuhkan dana dan dikeluarkan dana itu, semua termasuk dalam istilah infaq.

Jadi orang yang beli minuman keras yang haram hukumnya bisa disebut mengifaqkan uangnya. Orang yang membayar pelacur untuk berzina, juga bisa disebut menginfaqkan uangnya. Demikian juga orang yang menyuap atau menyogok pejabat juga bisa disebut menginfaqkan uangnya.


SEDEKAH

Istilah sedekah dalam teks Arab tertulis (صدقة), punya kemiripan dengan istilah infaq di atas, tetapi lebih spesifik. Sedekah adalah membelanjakan harta atau mengeluarkan dana dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.

Ar-Raghib al-Asfahani mendefiniskan bahwa sedekah adalah : (مَا يُخْرِجُهُ الإِْنْسَانُ مِنْ مَالِهِ عَلَى وَجْهِ الْقُرْبَةِ), maksudnya adalah : harta yang dikeluarkan oleh seseorang dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Jadi beda antara infaq dan sedekah dalam niat dan tujuan, dimana sedekah itu sudah lebih jelas dan spesifik bahwa harta itu dikeluarkan dalam rangka ibadah. Sedangkan infaq, ada yang sifatnya ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) dan juga termasuk yang bukan ibadah.

Maka istilah sedekah tidak bisa dipakai untuk membayar pelacur, atau membeli minuman keras, atau menyogok pejabat. Sebab sedekah hanya untuk kepentingan mendekatkan diri kepada Allah alias ibadah saja.

Lebih jauh lagi, istilah sedekah yang intinya mengeluarkan harta di jalan Allah itu, ada yang hukumnya wajib dan ada yang hukumnya sunnah.

Ketika seorang memberikan hartanya kepada anak yatim, atau untuk membangun masjid, mushalla, pesantren, perpustakaan, atau memberi beasiswa, semua itu adalah sedekah yang hukumnya bukan wajib. Termasuk ketika seseorang mewakafkan hartanya di jalan Allah, bisa disebut dengan sedekah juga.

Di dalam hadits nabi SAW yang menjadi dasar masyru`iyah waqaf, beliau SAW menyebutkan dengan istilah : sedekah.

تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ

Bersedekahlah dengan pokoh harta itu (kebun kurma), tapi jangan dijual, jangan dihibahkan dan jangan diwariskan.(HR. Bukhari)


ZAKAT

Sedangkan sedekah yang hukumnya wajib, maka para ulama sepakat untuk menyebutnya sebagai zakat.

Dengan kata lain, sedekah yang wajib itu adalah zakat. Atau sebaliknya, zakat adalah sedekah yang hukumnya wajib. Di luar zakat, asalkan masih dalam rangka kebaikan, cukup kita sebut dengan istilah sedekah.

Perbedaan Zakat dan Sedekah

Zakat sangat berbeda dengan sedekah, kalau kita rinci perbedaannya antara lain :

a. Dari Segi Hukum

Zakat hukumnya wajib, sedangkan sedekah hukumnya sunnah. Itu perbedaan paling mendasar antara keduanya, meski sama-sama di jalan Allah dan pasti berpahala.

Zakat merupakan bagian dari rukun Islam, yang bisa ditinggalkan termasuk dosa besar. Bahkan kalau diingkari kewajibannya, bisa berakibat runtuhnya status keislaman seseorang.

Amirul mukminim, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu`anhu memvonis kafir para pengingkar zakat dan memaklumatkan perang kepada mereka, dalam arti darah mereka halal.

Sedangkan sedekah yang hukumnya sunnah, tentu tidak ada paksaan untuk dijalankan. Dan tidak ada sanksi baik di dunia atau pun di akhirat.

b. Dari Segi Waktu

Zakat hanya dikeluarkan pada waktunya. Sedangkan sedekah tidak ada ketentuan waktu pelaksanaannya.

Zakat Fithr dikeluarkannya hanya pada menjelang hari Raya Iedul Fithr, bila telah lewat shalat Iedul Fithr, makanya sudah bukan zakat Fitrh lagi, melainkan sedekah biasa.

Zakat emas, perak, uang tabungan, perniagaan, peternakan dikeluarkan pada saat telah dimiliki genap satu tahun terhitung sejak mencapai jumlah minimal (nishab). Zakat pertanian, zakat rikaz dan zakat profesi dikeluarkan pada saat menerima harta.

c. Dari Segi Kriteria Harta

Tidak semua harta yang merupakan kekayaan wajib dikeluarkan zakatnya. Asset yang berupa benda, seperti rumah, tanah, kendaraan, apabila tidak produktif tidak diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya. Namun apabila seseorang ingin bersedekah atas harta yang dimilikinya, tentu tidak terlarang bahkan berpahala.

d. Dari Segi Pihak Yang Berhak Menerima (Mustahiq)

Harta zakat tidak boleh diberikan kepada sembarang orang, sebab ketentuannya telah ditetapkan hanya untuk 8 kelompok saja. Dan hal itu Allah SWT tegaskan di dalam Al-Quran :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي
سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu`allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah : 60)

Kalau kita perhatikan ayat di atas, mereka yang berhak atas harta zakat itu tidak termasuk anak yatim, para janda, para siswa berperestasi, atau korban bencana. Sebab mereka itu tidak disebutkan dalam jajaran para mustahiq, padahal ayat di atas dimulai dengan kata (إنَّمَا). Fungsinya membatasi, dimana selain yang disebutkan, tidak berhak dan haram unmtuk menerima harta zakat.

Maka dana zakat juga haram untuk membangun masjid, mushalla, pesantren, jalan, jembatan, juga tidak dibenarkan untuk dijadikan modal pembiayaan sebuah usaha walau misalnya untuk rakyat kecil.

Sedangkan sedekah boleh diberikan kepada siapa saja, asalkan memang bermanfaat dan tepat guna.

e. Dari Segi Jumlah Prosentase Yang Wajib Dibayarkan

Ketentuan harta yang wajib dikeluarkan dalam zakat itu pasti, besarannya ada yang 1/40 atau 2,5 % seperti zakat emas, perak, uang tabungan, perniagaan atau profesi. Ada juga 1/20 atau 5% seperti zakat panen hasil bumi yang diairi. Dan ada yang 1/10 atau 10% seperti zakat panen hasil bumi yang tidak diairi. Bahkan ada juga yang 1/5 atau 20% seperti zakat rikaz.

Sedangkan sedekah tidak ditetapkan berapa besarnya. Seseorang boleh menyedekahkan berapa saja dari hartanya, seikhlasnya dan sesukanya. Boleh lebih dari zakat atau juga boleh kurang.

Kesimpulan
  • Infaq : mengeluarkan harta untuk tujuan apapun. Baik itu ibadah maupun non-ibadah. Hukumnya adalah mubah alias boleh-boleh saja terserah Anda.
  • Sedekah : infaq yang khusus di jalan kebaikan saja. Hukumnya ada yang sunnah dan ada yang wajib.
  • Zakat : sedekah yang hukumnya wajib bagi yang sudah berkewajiban zakat.

Demikian penjelasan mengenai infaq untuk mendapatkan azimat dari PADEPOKAN MACAN REMBANG Prinsip kami dalam melayani Anda adalah "Anda rela, kami rela" alias sama-sama ikhlas. Apabila Anda masih ragu atau merasa berat untuk memberikan infaq dalam mendapatkan azimat, janganlah memaksakan diri. Kami hanya menyediakan layanan, jika Anda senang dan perlu, silakan diikuti. Apabila Anda merasa kurang cocok, jangan memaksakan diri.

Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

boleh usul tapi jangan asal